Tuesday, April 07, 2009

Tuesday, March 10, 2009

Tuesday, March 03, 2009

Seclusion at The Beverly Hills Bali

Monday, January 19, 2009

ROMANTIC at THE BEVERLY HILLS BALI

Monday, December 01, 2008

Menjadi Diri Sendiri

Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.

Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”

Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.

Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaab. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.


Pembaca yang budiman,
Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang lain.
Meniru orang memang sah dan boleh saja. Namun, belajarlah dari orang lain dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri sendiri.
Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Selain itu, kita juga butuh melatih dan memelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih baik akan kita peroleh.

Jadilah diri sendiri! Be your self!
Salam sukses luar biasa!!!

source by http://www.andriewongso.com

Thursday, November 06, 2008

You Always Be My Baby

We were as one babe
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'm letting you fly
Cause I know in my heart babe
Our love will never die
No!
You'll always be a part of me
I'm a part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my baby
And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling cause you'll always be my baby
I ain't gonna cry no
And I won't beg you to stay
If you're determined to leave girl
I will not stand in your way
But inevitably you'll be back again
Cause ya know in your heart babe
Our love will never end no
You'll always be a part of me
I'm part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my baby
And we'll linger onTime can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling cause you'll always be my baby
I know that you'll be back girl
When your days and your nights get a little bit colder oooohhh
I know that, you'll be right back, babe
Ooooh! baby believe me it's only a matter of time
You'll always be a part of me
I'm part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my baby
And we'll linger onTime can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling cause you'll always be my my baby....
Always be my baby

Tipat Cantok


Tipat Cantok adalah salah satu makanan favorit orang Bali, makanan yang berbahan dasar dari ketupat ini sudah dari beberapa puluh tahun lamanya ngetrend dan tidak ada matinya. disiram dengan bumbu kacang, tipat cantok ini ditemani dengan beberapa sayuran seperti buncis, kacang panjang, toge, dan kadang pake tahu atau tempe. Tipat Cantok ini dapat dibeli disetiap sudut Bali, dengan ciri khas yang berbeda beda tergantung dari cara menyajikan disetiap kota di Bali. Kalau saya dulu mengenal ini adalah ketoprak karean memiliki ciri dan penyajian yang sama. Tapi yang ini tidak ditemani dengan kerupuk, ini merupakan salah satu makanan terbaik yang ada di negeri ini dan biasanya setelah makan tipat cantok, kita lanjut dengan makan rujak kuah pindang gula .. dan es teh manis .. makanan yang sangat sederhana ini adalah makanan yang terbaik ... bila temen2 pengen nyobain .. jangan lupa contact saya .. nanti saya anter ke tempat yang terbaik deh ...

Sunday, November 02, 2008

Rujak Kuah Pindang Gula


Rujak Kuah Pindang adalah kombinasi dari beberapa buah-buahan segar yang hampir mirip dengan rujak manis atau rujak gula. Contoh buah yang digunakan mirip dengan rujak gula seperti bengkuang, pepaya, kedongdong, mentimun, belimbing , dan lain-lain. Buah-buahan ini dikupas kemudian dipotong kecil-kecil. Yang membedakannya dengan rujak biasa adalah pelengkapnya, yakni kaldu yang terbuat dari ikan, garam, terasi, dan cabai. Semua bahan pelengkap itu digiling sampai lembut, tapi tidak diberikan air lagi karena dicampur kuah pindang (kaldu ikan) sudah encer. makanan ini khas dan hanya dimiliki di Bali saja karena kreativitas orang bali yang begitu tinggi dan seni menjadikan ini suatu makanan yang sangat berselera bagi orang2 bali tanpa terkecuali untuk anak, dewasa bahkan emak emak sekalipun. di Denpasar, ada beberapa penjual rujak .. tapi yang terbaik itu ada di banjar gelogor ... dan bagi saya itu adalah penjual rujak terbaik di negeri ini .. yang lain gak ada yang ngalahin ... cobain deh!!!!

Friday, October 31, 2008

Jimmy Hendrix

James Marshall Hendrix (November 27,1942 – September 18, 1970) was an American musician, singer, songwriter, producer, and guitarist. Widely hailed by music fans and critics alike as the greatest electric guitarist of all time, there is no disputing that he remains one of the most influential rock guitarists (and songwriters).Jimi was not very popular in America at the outset of his musical career, only later gaining recognition after taking a trip to England with the Animals’ Chas Chandler, where he subsequently formed the Jimi Hendrix Experience with bassist Noel Redding and drummer Mitch Mitchell. While the Experience quickly became popular in England, they remained relatively unrecognized outside of the country. It was not until their performance at the Monterey International Pop Festival in the States that the Experience became, quite literally overnight, one of the most popular bands of the era.——Hendrix was mostly self-taught on the guitar. He was ambidextrous but chose to play the guitar upside-down and re-strung for playing left-handed, which suggests he was more comfortable left-handed. As a guitarist, he built upon the innovations of blues stylists such as BB King , Albert King, Buddy Guy,T Bone Walker, and Muddy Walter, as well as those of rhythm and blues and soul music guitarists such as Curtis Mayfields. Hendrix’s music was also influenced by jazz; he often cited Rahsan Ronald kirkas his favorite musician. In addition, Hendrix extended the tradition of rock guitar: although previous guitarists, such as The Kinks and Jeff Beck. Jimmy will be an inspire guitaris for whole world guitaris.

source by http://www.last.fm

Tuesday, October 28, 2008

TOMPI time


Lahir dengan nama Teuku Adifitrian, atau lebih yang popular dengan nama Tompi pada tanggal 22 September 1978 di Lhokseumawe Aceh. Kesenian daerah Aceh sangat mendukung dengan hobi dan bakat Tompi di bidang seni terutama dalam hal tarik suara dan tari. Di Acehlah masa remaja Tompi di habiskan. Hingga pada tahun 1997 ketika dia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di sela-sela waktu kuliahnya bakat tersebut dilanjutkan dan dikembangkan dengan lebih banyak lagi belajar seni musik dan tarik suara bersama penyanyi jazz terkenal di Jakarta Bertha dan pianis Tjut Nyak Deviana. Lelaki lajang yang kini sedang menyelesaikan studi spesialisnya di bidang bedah plastic ini juga mempunyai kemampuan untuk menulis lagu dengan bantuan alat perekam kecil atau telpon genggamnya. Dia mengambil inspirasi pembuatan lagunya dari suasana sekitarnya pada saat itu atau juga dari pengalaman-pengalaman teman-teman dekatnya. Pada tahun 2002, penyanyi yang tidak canggung lagi tampil membawakan gaya funk, r&b, soul, hip hop, nu-jazz, swing dan bossanova ini berhasil mendapatkan tawaran untuk menjadi house band di The Bar, Hotel Four Season Jakarta setelah sekian lama malang melintang “ngamen” dari satu acara ke acara yang lain. Karier profesionalnya sebagai penyanyi bertambah lagi ketika kelompok band jazz fusion baru Cherokee pada tahun 2003 mengajaknya untuk menjadi vokalis kelompok tersebut tampil di Singapura. Di sana, Tompi mendapat julukan dari para penonton “Supervocalist” atau “Supersound”. Kesuksesannya tersebut diikuti bersama dengan tournya Cherokee di kota-kota di Jawa dan beberapa tempat lain. Sepertinya saat-saat tersebut menjadi titik tolak kepopuleran Tompi sehingga dikenal dan disukai para remaja dan sebagian penggemar musik jazz di Indonesia.

Namun tidak sampai di situ saja. Pada akhir 2004, Tompi pun bergabung dengan sebuah kelompok band etnis-fusion yang musisinya terdiri dari multinasional, Bali Lounge. Ketika tampil dalam Java Jazz Festival 2005 di Jakarta, mereka berhasil memukau ribuan penonton yang hadir. Satu hit terkenal dari kelompok ini dengan penampilan Tompi yang lebih menonjol adalah lagu ‘Something’s Wrong’. Langkahnya seperti sulit dihentikan saja. Pada pertengahan tahun 2005 lalu dia dengan percaya diri tampil dalam album solo perdananya dengan judul yang simple, “T”, yang merupakan inisial nama popularnya. Materi dalam album ini sebagian besar adalah kumpulan lagu-lagi ciptaanya dahulu, walau ditambahkan dengan lagu-lagu barunya seperti ‘Selalu Denganmu’ atau ‘Dance With Me’. Keseluruhan album ini berisi 12 lagu yang setengah darinya lagu berbahasa Inggris. Tompi pun berharap album solonya ini dapat diterima oleh semua kalangan baik itu pecinta musik jazz maupun pop di tanah air. Bagi Tompi, yang masih mempunyai akar kuat dari serambi Mekkah tersebut, kesuksesan dan kepopulerannya selama ini tidak menggelapkan hatinya untuk berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta dan lupa terhadap penderitaan sanak saudara di Aceh setelah dilanda musibah nasional tsunami di akhir tahun 2004 yang lalu. Pada waktu bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1426H yang lalu, Tompi juga terlibat dalam pembuatan album bareng-bareng “Soulful Ramadhan”. Sebuah album rohani dengan sentuhan modern namun tetap bernuansa padang pasir yang sangat khas dan kental dengan suasana Ramadhan. Selain itu, dia juga pernah membantu kelompok Groovology, Funkythumb dan Sova
source by wartajazz.com

Jamie Cullum - Young Jazzer

Jamie Cullum (born August 20, 1979) is an English lounge jazz pianist and singer. Cullum was born in Essex. His mother, Yvonne, is a Burmese secretary whose family settled in Wales after Burma’s de-colonization; his father, John Cullum, worked in finance. His paternal grandfather was a British Army officer, while his paternal grandmother, Omi, was a Jewish refugee from Prussia who sang in Berlin nightclubs; Cullum sees her as his “cultural icon”.[1][2] He was raised in Hullavington, Wiltshire.Cullum released his first album, Jamie Cullum Trio—Heard it All Before, in 1999. A mere 600 copies were made. Original copies have sold for as much as £600 (and above) on eBay. The success of Heard It All Before resulted in Jamie being invited to appear on Geoff Gascoyne’s album Songs of the Summer. After graduating from the University of Reading in 2001, Cullum—who is completely self-taught, bar a few piano lessons as a youngster—released a best-selling album, Pointless Nostalgic, which stirred interest from Michael Parkinson. Following that, in April 2003 he signed a contract with Universal, for three albums, who beat Sony in a bidding war for the prodigy.Cullum then started recording his second album, Twentysomething, which was released in October 2003. It went platinum and became the #1 selling studio album by a jazz artist in the United Kingdom. Cullum’s breakout hit in the United States was “All At Sea” closely followed by a reworking of Radiohead’s “High and Dry”.Although primarily a jazz musician, Cullum performs in a wide range of styles and is generally regarded as a “crossover” artist with his musical roots firmly based in jazz. Cullum draws his inspiration from many different musicians, from Miles Davis to Tom Waits and many more. Cullum has been part of quite a long list of bands, ranging from banging drums in a hip-hop group to playing guitar in rock bands such as Raw Sausage and The Mystery Machine, in his teenage youth.Together with his elder brother, Ben Cullum, he wrote the music for a West End stage version of When Harry Met Sally…The British Jazz Awards first recognized Cullum’s growing success by awarding him the “Rising Star” award, at the 2003 ceremony in July. At the 2004 Brit Awards, Cullum was nominated in the “British Breakthrough Act” category. He performed live in the ceremony at Earl’s Court, a duet with Katie Melua of The Cure’s “Love Cats”. In the 2005 Brit Awards, Cullum was nominated for two awards: “Best Male Artist” and “Best Live Act”. Following that, Cullum was nominated for a prestigious Grammy award in 2005, and went on to win yet another award at the BBC Jazz Awards, this time scooping Radio 2 “Artist Of The Year”, as voted for by listeners of Radio 2.Cullum’s third major label album, entitled Catching Tales, was released on the September 26, 2005, in the United Kingdom and The Netherlands, and two weeks later in the United States, on October 11.The American and French versions of Catching Tales do not feature Fascinating Rhythm, unlike the European version which does. The second single released, in the United Kingdom and the Netherlands, was “Mind Trick,” a funky track written by Jamie and his brother Ben. The third single to be released from the album is the self-penned track “Photograph.” Cullum has said it was written on New Years Day (2005) after he found a box of photographs that reminded him of how special his youth was, despite the fact it didn’t seem it at the time.A special edition version of Catching Tales is also available in Europe, featuring “an exclusive 20 minute behind-the-scenes documentary following Jamie throughout recording, mixing, the video shoot and on the road across Europe. It also includes a fabulous interview. 28-page booklet contains exclusive photos, Jamie rarities, extended liner notes plus a track-by-track introduction from Jamie himself!”. Catching Tales has also been released on vinyl, as well as the first single, “Get Your Way.”Catching Tales was to feature a collaboration with Pharrell Williams. Cullum and Williams recorded various songs together and it was thought that a song titled ‘Wifey’ would make an appearance on Catching Tales. Unfortunately, due to publishing laws, it ended up being taken off the album. Usher recorded a version of the song “Wifey”, which was released on a special Japanese import. There is a possibility of “Wifey”, or one of the other tracks they previously recorded together, being released on Pharrell’s forthcoming solo album, release date unknown.The album Catching Tales has been produced by Stewart Levine, who also produced “Twentysomething”.Cullum has been touring with the new album, Catching Tales, since the end of October 2005 and will continue to do so until November 2006. Playing gigs in places such as: Singapore, Hong Kong, New Zealand, South America, South Africa, Brazil, Chile, Argentina, Germany, Spain, as well as returning to America no less than three times this year, to tour extensively. Cullum has played at many large music festivals, including Coachella 2005 and the 2006 South by Southwest, and will be playing the 2006 Playboy Jazz Festival.29 April Queensday in The Netherlands, Jamie gave a one hour performance for 280.000 in Amsterdam Museumsquare. As a statement he was wearing a shirt from the Dutch singer/songwriter anouk .In July 2007, he appeared at the WOMAD Festival in Berkshire, England, billed as BC & JC along with brother Ben, premiering new tunes that are dance based in flavour, closing the set with a likely new single.He also played the part of DJ English Hughie in the computer game, The Movies.

Simon Phillips

Simon Phillips is by far one of the world's most renowned and respected drummers, whose style not only reflects his technical gift but also his distinct musical sensibility. Whether it is Rock, Fusion or Jazz, Simon applies the same precision and intensity to his drumming, which is never lacking in emotion and feel. -->Simon's professional musical career began at the early age of twelve, performing and recording with his father's - Sid Phillips - Dixieland band until he turned sixteen. With an offer to play in the musical Jesus Christ Superstar, his path was marked and his career in full bloom. Simon soon became one of London's most celebrated session drummers. In his early twenties he was well on his way to having a musical career nothing short of brilliance. To date he has toured and recorded with many bands and artists, including: Mick Jagger, The Who, Jeff Beck, Jack Bruce, Peter Gabriel, Joe Satriani, Tears for Fears, Judas Priest, Roxy Music, Michael Schenker, Nik Kershaw, Phd., Al DiMeola, 801, Pete Townshend, Russ Ballard, Robert Palmer, Stanley Clarke, The Pretenders, Jon Anderson, Whitesnake and Dave Gilmour... to name but a few. In 1992 Simon decided to move to the USA, coinciding with being asked to join Toto for their world tour. He has remained a full time member ever since. After recording the Toto album "Tambu" in 1995, another year of touring followed in 1996, covering Europe, Japan, SE Asia and South America. In 1997 Simon took a break from Toto in order to reach a personal milestone: He took his own band on tour, and for the first time he was the bandleader, and it was his music. This great year included tours of Europe, Japan and The United States, and a performance at The North Sea Jazz Festival. 1998 saw the recording of another Toto studio album entitled "Mindfields", followed by 2 years of touring around the world of which the live CD "Livefields" captures. The most recent Toto record "Through the Looking Glass" took the band in 2002/03 on extensive concert trips to Europe and Asia. Expanding his career from drumming to writing solo projects, Simon recorded his first album "Protocol" in 1988, followed by "Force Majeure" in 1992. "Symbiosis", which he recorded in 1995, was as spirited but more inspired than ever, and showed a change of direction in the compositions. Simon likes to link his growth in songwriting and new artistic depth to his move to the States. The 1997 record "Another Lifetime" shows yet another layer of his tremendously resourceful playing and an even more motivated composing. "Out of the Blue", a live album, followed in 1998 and in 1999 another complete change of style took place in his latest record "Vantage Point", which is a pure, straight ahead jazz album. Yet another expansion to Simon's musical career is producing and engineering, which he first started back in England with British composer Mike Oldfield, working on three albums with him. Aside from his solo projects, Simon also co-produced Toto's "Tambu" in 1995, followed by "Mindfields" in 1998. Simon was asked to engineer the latest Toto album, and spent a couple of months during the winter of 2001/02 recording "Through the Looking Glass" in his own studio. Simon is currently back in his studio mixing a recently recorded show for the next Toto DVD. In 2000 Simon took a break from Toto and recorded with Derek Sherinian, formally of Dream Theater, as well as produced and engineered "Inertia". The following year included the recording of progressive band Planet X, "Moonbabies" and mixing a live CD "Live From Oz". Simon's sympathy to the various styles of music and his interest in sound and arrangements will always drive him to expand his career.

Monday, October 27, 2008

IWAN FALS

Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara adzan maghrib aku selalu menangis. Aku nggak tau kenapa sampai sekarang pun aku masih gambang menangis. Biar begini-begini, aku orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai contoh, menyaksikan berita di televisi yang memberitakan ada orang sukses lalu medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat aku tersentuh dan lalu menangisBicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku belajar main gitar dari teman-teman nongkrongku. Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar itu. Tapi malah senarnya putus. Aku dimarahi.Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatanku.Dulu aku pernah sekolah di Jeddah, Arab Saudi, di KBRI selama 8 bulan. Kebetulan di sana ada saudara orang tuaku yang nggak punya anak. Karena tinggal di negeri orang, aku merasakan sangat membutuhkan hiburan. Hiburan satu-satunya bagiku adalah gitar yang kubawa dari Indonesia. Saat itu ada dua lagu yang selalu aku mainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji. Kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, aku cuma menenteng gitar kesayanganku. Dalam perjalanan dalam pesawat dari Jeddah ke Indonesia, pengetahuan gitarku bertambah. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat, membuat seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiriku dan meminjam gitarku. Tapi begitu baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarku fals. "Kok kayak gini steman-nya?" tanyanya. Waktu itu, meski sudah bisa sedikit-sedikit aku memang belum bisa nyetem gitar. Setelah membetulkan gitarku, pramugari itu lalu mengajariku memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan.Waktu sekolah di SMP 5 Bandung aku juga punya pengalaman menarik dengan gitar. Suatu ketika, seorang guruku menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi karena ada anak perempuan yang jago memainkan gitar, aku menawarkan diri. "Gengsi dong," pikirku waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar di vokal grup sekolahku.

Friday, October 24, 2008

mengenang Ian Antono sang Gitaris Legendaris


Nama Asli : Jusuf Antono Djojo


Tempat/Tgl Lahir : Malang, 29 Oktober 1950


Gaya Permainan : Rock, Etnik RockGroup


Band Sebelumnya : Gong 2000, Sapta Nada, Bentoel, AKAGroup Band Sekarang : God BlessPengaruh musikal : Eric Clapton, The Shadows


Gitar Yang Digunakan : Gibson Les Paul Standar, Gibson SG Double Neck, Hamer, Kramer Tracer, Fender Stratocaster, Ibanez JEM 77, Washburn N-4, Gibson Les Paul Deluxe, Ovation Elite, Gibson Chat Atkins, Martin CMF, Martin EST 12 senar, dan Seagull


Ampli : Messa Boogie Strategy 400, Marshall JCM 900 1960, Trace Elliot AC-100, Messa Boogie Quad, Messa Boogie Tri Axis


Efek : Roland GP8. Harmonizer Eventid H-3000S


Pada awalnya ia merupakan seorang drummer, namun setelah mendengar musik-musik The Shadows ia mulai berminat menjadi gitaris. Ia pun akhirnya bergabung dengan band Abadi Soesman yang waktu itu namanya cukup diperhitungkan. Tahun 1970 ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan band Bentoel yang menjadi pengiring bagi penyanyi Emilia Contesa dan Trio The King. Semakin lama ia semakin mendapat pengalaman dan memperluas pergaulan. Akhirnya tahun 1974 ia resmi menjadi gitaris God Bless dan merilis album-album seperti Huma Diatas Bukit (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1989). Nama Ian Antono mulai menarik perhatian karena pada saat itu atmosfer musik rock di Indonesia belum ada yang memulai. God Bless lah yang pertama kali mempelopori. Secara otomatis Ian juga menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur rock Indonesia. Setelah itu ia mundur dari God Bless dan bergabung dengan grup Gong 2000 dan merilis album-album seperti Bara Timur (1991), Laskar (1994), dan Prahara (1996).Sewaktu masih memperkuat God Bless permainan Ian berbeda dengan semasa ia memperkuat Gong 2000. Di Gong 2000 ia banyak memasukkan unsur musik Bali. Hal itu dibuktikan pada setiap penampilannya, Ian setidaknya mengikutsertakan 20 musisi asli Bali. Tahun 1997, Ian kembali memperkuat God Bless dan berduet dengan Eet Sjahranie yang masih berstatus sebagai gitaris God Bless. Konsep double gitar ini cukup menarik perhatian meski pada akhirnya album Apa Kabar? gagal dipasaran.Ian Antono juga merupakan sosok seorang musisi yang produktif. Dalam setahun beliau bisa menggarap album untuk beberapa penyanyi. Banyak album yang tidak lepas dari sentuhan hangatnya termasuklah Iwan Fals, Anggun C Sasmi, Nicky Astria, Doel Sumbang, Gilo Rollies, Ebiet G Ade, Ikang Fawzie dan banyak lagi. Karya Ian Antono di arena muzik telah menerima banyak penghargaan. Antaranya ialah BASF Award (1987 - 1988) untuk Arranger Terbaik dan Komposer Terbaik untuk album Gersang (Nicky Astria), HDX Award (1989) untuk lagu Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), BAFS Award (1989) Album Bara Timur (Gong 2000) sebagai The Best Selling Album dan The Best Arranger & Composer, HDX Award (1994) untuk album Laskar (Gong 2000) sebagai Album Terbaik. Yang tidak kalah pentingnya adalah penghargaan dari Diamond Achievement Award atas dedikasi dan prestasi yang tinggi di industri musik pada tahun 1995.Sebuah pengalaman yang menarik bagi Ian adalah ketika pada tahun 1999 ia diundang oleh Ramli Syarif untuk ikut memeriahkan ajang Formula-1 di Malaysia. Bagi Ian ini bukan pengalaman biasa, pasalnya disana turut hadir pula grup kolaborasi dewa gitar dunia, G3 dan grup rock legendaris Jethro Tull. Dengan memanfaatkan sesi check sound, Ian mempelajari perangkat milik Steve Vai yang jumlahnya banyak. Dari situ ia menambah ilmu dan wawasan yang belum pernah ia dapatkan di Indonesia. Kebesaran nama dan kontribusinya bagi dunia musik Indonesia membuat para musisi muda Indonesia menggelar proyek album A Tribute To Ian Antono yang dimeriahkan oleh artis-artis musik Indonesia seperti EdanE, Sheila On 7, Padi, Gigi, Cokelat, Boomerang, /rif, dll. Album ini sukses di pasaran. Kini Ian Antono dikabarkan kembali siap mengibarkan God Bless ke kancah musik nasional. Kita tunggu aksinya.Ian Antono pada tahun 2007 ini sering memakai Gibson Les Paul standar dan juga Gibson SG double neck. Untuk perangkat latihan dirumah ia memakai Marshall, namun untuk LIVE dan rekaman di studio ia menggunakan Mesa Boogie. Tak ada efek macam-macam yang ia gunakan selain sebuah delay.

Thursday, October 23, 2008



Nama Lengkap: Bambang Sutejo

Tempat/Tgl Lahir : Bandung / 6 November 1968

Gitar : Ibanez EX series, Ibanez RG 570, Ibanez JF 777,Ovation AccousticPedal : Digitech Whammy-pedal, Jim Dunlop crybaby pedal, Boss guitar pedal-volume, shure wireless sistem

Amps : Peavey 5150 head-amp + cabinet 1 set (2 buah) Hughes & Kettner head-amp attack 200,

Grup Band : Pas Band

Pengaruh Musik: Jimmy Page, Steve Vai, Jimi Hendrix, Eddie Van Halen, Joe Satriani


Gitaris yang dikenal dengan panggilan Bengbeng ini dikenal sebagai gitaris Pas Band. Masa-masa awal belajar gitar ia menggunakan Prince. Kemudian sempat berpindah ke merk Yamaha. Namun akhirnya ia menggunakan IbanezBersama Pas Band ia memulai karir di tahun 1989. Saat itu ia yang berdomisili di Bandung bersaam teman-temannya membuat album yang direlease dengan judul 4 Through The Sap. Dengan direlease secara indie, album ini kemudian terjual hingga 7000 copy. Kemudian label Aquarius mengontraknya hingga menghasilkan beberapa album diantaranya In (no) Sensation, IndieVduality, Psycho I.D., Ketika..., dan 2.0, dan Stairway To Seventh.Gaya permainan yang rock abiz membuat gitaris ini bukan hanya sibuk di band tapi juga mengisi side projectnya seperti bergabung dalam group band AIR yang melejit lewat lagu BINTANG serta sibuk juga menjadi jadi clinician sebuah toko alat musik.

Sunday, October 19, 2008

Para Libra seperti saya

Libra - Timbangan(23 September - 23 Oktober)
Penuh Keraguan, Bimbang, Adil Pandai Bermuka Dua, Memiliki Naluri Yang Kuat, Mempesona

Nomor Keberuntungan: 8, 17, 22, 35, 39, 44
Aroma Keberuntungan: Peppermint, Kayu Pinus, Vanilla
Planet Yang Mengitari: Venus
Bunga Keberuntungan: Bunga Violet
Warna Keberuntungan: Biru
Batu Keberuntungan: Batu Pirus/Permata
Elemen Keberuntungan: Udara

Para libra sangat menawan, sulit ditebak, dan memiliki inteligensi yang tinggi; mereka dapat bekerja sama dan adil, namun penuh kebimbangan dan selalu mencari ketenangan batin. Mereka selalu kawatir pada hari ini dan selalu melakukan apapun juga untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka suka bekerja sama daripada bekerja sendiri. Mereka haus akan pengetahuan dan memiliki minat yang besar pada bidang kehumasan dan kejiwaan. Mereka selau tampil sebagai pembawa damai dan jarang mudah marah, namun apabila marah, mereka dapat membuat orang di sekitarnya gemetar ketakutan. Cita rasa Libra klasik dan mereka menyukai kombinasi antara kesederhanaan dan kesempurnaan. Keragu-raguan mereka adalah langkah mundur terbesar bagi mereka. Tidak hanya membuat mereka kehilangan kesempatan tetapi juga membuat mereka yang berhubungan dengan Libra menjadi bingung. Mereka memiliki keinginan yang besar untuk menjaga segala sesuatunya tetap harmonis dan bersedia berkorban untuk mendapatkannya. Mereka mempunyai jiwa seni, keindahan, dan rencana. Ini semua membantu Libra dalam mencapai apa yang telah mereka tetapkan. Dalam menyelesaikan tugasnya, Libra selalu berhasil berkompromi dan membujuk orang lain untuk melakukan perbuatan sesuai dengan kehendaknya.


Asmara para Libra: Para Libra akan mengerjakan apa saja demi memuaskan pasangannya. Mereka tertarik pada individual yang cantik/tampan. Para Libra tidak suka kata-kata kotor, penampilan yang sembrono atau prilaku buruk dari pasangannya. Para Libra tidak suka menyakiti orang lain. Keagungan, kemurahan hatinya dan pesonanya akan selalu menarik orang di dekatnya. Rasa aman yang didapatnya akan membuatnya bahagia.

Saturday, October 18, 2008

Andi Timon Profile

As guitarist for pop-metal band Danger Danger, he toured the world opening for Kiss and Alice Cooper, sold over a million records worldwide, and had two #1 videos on MTV, plus amassing a discography that includes 7 solo releases that range from blazing guitar instrumentals, to blues, and even a Beatles/Elvis Costello-inspired collection of pop tunes.


As a session player, he's been highly featured on CDs by drumming legend Simon Phillips, a live CD with Olivia Newton-John (Andy has been her music director/guitarist for several U.S. tours), two internationally acclaimed CDs by Kip Winger, recording sessions for Paula Abdul, Paul Stanley, and countless radio and television jingles. He has also played alongside many of his heroes such as Steve Vai and Joe Satriani (as a regular guest on their G3 tours in Dallas), Eric Johnson, Steve Morse, Mike Stern, Ace Frehley, Ted Nugent, and Pierre Bensusan, as well as some of his fave '60's singing stars such as the Beach Boys, Lesley Gore, and Gordon Waller (of Peter and Gordon fame!)So what hasn't this phenomenal talent done? Released a CD in America, that's what!! Andy has experienced great success with several of his solo releases in Europe and Japan, but "That Was Then, This Is Now (the best of X-tacy)" is his first worldwide CD that includes a US release!
This CD features 11 newly re-mastered tracks from his first two highly acclaimed solo releases, ear X-tacy and ear X-atcy 2 as well as five new songs recorded especially for this compilation that contain some of Andy's best playing ever. Songs such as the Hendrix inspired “Electric Gypsy”, the homage to Stevie Ray Vaughan, “I Remember Stevie”, a beautiful ballad “A Night To Remember”, the country chicken-picking barn-burner “Farmer Sez”, and the incredible tribute to George Harrison, “Slips Away”. These are just a few examples of why Andy has long been respected and admired in the guitar community. The common thread through all these musical genres seems to be Andy's passionate style and sense of melody.

Andy's musical career began in his hometown of Evansville, Indiana at the age of 13 with his first band, Taylor Bay. “Early on, I realized that making it in a rock band was such a long-shot, that I better figure out other ways of making a living playing guitar. I began reading about players like Steve Lukather and Larry Carlton who made their living as session musicians. This really appealed to me, since I really loved a wide variety of musical styles.”
The decision to pursue the studio scene led him to more serious music studies. He studied classical guitar for two years before moving to Miami to study jazz guitar at the University of Miami (largely because the Dixie Dregs, Pat Metheny, and Jaco Pastorius had all gone there). He eventually ended up in Dallas where he was very fortunate to get a foot in the door of a very good studio scene. In 1988, the Andy Timmons band was formed and he quickly gained a following in Texas. Around that time, Epic recording artists Danger Danger recruited him to finish their debut record, film several videos, and begin touring.
After 4 years in New York with Danger Danger, Andy returned to Dallas in 1993 to resume his studio career and the Andy Timmons Band. His first solo release, ear X-tacy, was released in 1994 to critical acclaim followed 1997's ear X-tacy 2. He then released Pawn Kings (1997), Orange Swirl (1998), The Spoken and the Unspoken (1999), and And-thology 1 & 2 (2000). In 2001 Andy signed with Favored Nations and released his first international record, That Was Then, This is Now, a compliation of the first two ear X-tacy records and and five new tracks. Resolution (2006) marks Andy's first full-length new release for Favored Nations.
Andy has been consistently voted a “Top 20 Favorite Guitarist” in most of Japan's rock music magazine's reader polls, as well as being voted “Musician of the Year” four years in a row in the acclaimed Dallas Observer Music Awards. He also has become one of the most respected and sought after clinicians representing Ibanez Guitars, touring the world on their behalf.

source by http://www.andytimmons.com/

think about Marcus Miller

jaco pastorius may well have been the last jazz musician of the 20th century to have made a major impact on the musical world at large. everywhere you go,sometimes it seems like a dozen times a day, in the most unlikely places you hear jaco's sound; from the latest tv commercial to bass players of all stripes copping his licks on recordings of all styles, from news broadcasts to famous rock and roll bands, from hip hop samples to personal tribute records, you hear the echoes of that unmistakable sound everywhere. (it may even be more imitated at this point than the previously most pervasive jazz sound to escape into the broader culture beyond the local borders of jazz, the moody harmon mute stylings of miles davis). for all the caterwauling that has gone on about new musicians that have shown up in recent years being toted as the "next miles", or the "duke ellington of their generation", or whatever, jaco outranks all of them and all of that by being the one and the only of his kind, without predecessor; the only post 1970 jazz musician known on a first name basis with all music fans of all varieties everywhere in the world. from the depths of africa where he is revered in almost god-like status to the halls of most every music university on the planet. to this day, and maybe more than ever, he remains the one and the only JACO. and how odd it is to see this era of historical revisionism in jazz how this accomplishment is often relegated by people who should know better as being "not jazz" or as "fusion" (possibly the single most ignorant and damaging term ever invented to describe (discount) an important and vital branch of the jazz music tree). jaco at his best, as on this record, defines what the word jazz really means. jaco used his own experiences filtered through an almost unbelievable originality informed by a musicianship as audacious as it was expansive, to manifest into sound through improvisation a musical reality that illuminated his individuality. and besides all that, he simply played his ass off - in a way that was totally unprecedented on his instrument, or on ANY instrument for that matter.

because jaco's thing has been so fully assimilated into the culture and the musical vocabulary of our time, i notice that it is difficult for people who weren't around at the time of his emergence to fully weigh the impact of his contribution. as a young musician who met jaco in his prime when we were both just starting out, i can only say that my reaction upon hearing him for the first time (with ira sullivan in miami, florida in 1972) was simply one of shock - i had literally never heard anything remotely like it, nor had anyone else around at the time. and yes, as is so often noted in his case, the way he was playing was unprecedented in technical terms, but that wasn't what made it so stunningly appealing to me. there was a humanity to jaco's thing, built into those relentless grooves was that rare quality that only the most advanced jazz musicians seem to be able to conjure up - with jaco, you were hearing the sound of a time, of an entire generation at work, on the move. our musical relationship was immediate. we recognized in each other a kind of impatience with the status quo of our respective instruments and jazz in general and found an instantaneous rapport from the first notes we played together. we also became really good friends. during the short time that i lived in miami (near jaco's hometown of ft. lauderdale), we played show gigs together and occasionally played at his house (he was living on top of a laundromat at the time) and spent a lot of time just talking about music, much of it about how intensely we both disliked the so-called jazz/rock of the time. ( how ironic that we are both now associated (inaccurately) with that movement). shortly after we met, i wound up moving to boston to join gary burton's quartet. during this period, jaco and i spent time working together in new york with pianist paul bley and began a trio that lasted for several years with drummer bob moses (that group later went on to record what became my first record "bright size life".) in the middle of this period jaco recorded this album. when jaco got word that herbie hancock (a major hero of both of ours) had agreed to participate, i think his already inspired vision of what he could be as a musician and what he could do with this record in particular went to a whole other level. listening again to this record, and the way that he and herbie hook up on the original and the alternate takes of "used to be a cha-cha" we are hearing improvised music at it's highest level - but with a difference. jaco restructured the function of the bass in music in a way that has affected the outcome of countless musical projects to follow in his wake - an innovation that is still being absorbed by rhythm section players to this day - he showed the world that there was an entirely different way to think of the bass function, and what it meant. for this alone, jaco would earn a major place in the pantheon of jazz history. but, of course, there was so much more.

his solo on 'donna lee', beyond being astounding for just the fact that it was played with a hornlike phrasing that was previously unknown to the bass guitar is even more notable for being one of the freshest looks at how to play on a well traveled set of chord changes in recent jazz history - not to mention that it's just about the hippest start to a debut album in the history of recorded music. that solo, along with his best compositions like "continuum" reveal a melodic ingenuity (that rarest and hardest to quantify of musical qualities amongst improvisors) that comes along only a few times in each generation. and then there is just his basic relationship to sound and touch; refined to a degree that some would have thought impossible on an "electric" instrument. jaco's legacy has had a rough go of it - a horribly inaccurate, botched biography, endless cassette bootlegs of late-life gigs that do nothing but devalue the importance of his message through greed and overkill, and a mythology that seems to thrive on the stories that surrounded the lesser aspects of his lifestyle over the triumphs of his early musical vision and wisdom.

but you know what? you put this record on, and none of that matters. it is all here, in the grooves; everything you need to know about the guy. jaco pastorius was one of the most important musicians of our time - the fact that this was his first record is simply astonishing, there is no other way to put it. that this is without question the most auspicious debut album of the past quarter century is inarguable. as with all great recordings, the force of it's value becomes more evident as time passes.

Friday, October 17, 2008

sedikit tentang ARMAND MAULANA - GIGI


Armand Maulana (Tubagus Armand Maulana) (lahir 4 April 1971 di Bandung) adalah seorang vokalis dari sebuah kelompok grup musik papan atas Indonesia bernama Gigi. Ia adalah adik kandung dari penyanyi dan pembawa acara Indonesia Nita Tilana.Sejak kecil Gw mencintai musik. Wktu duduk di bangku SD, Gw pernah tercatat sebagai anggota Genesis Fans Club, sebuah kelompok penggemar kelompok musik rock Genesis. GW juga pernah menjadi anggota kelompok teater musikal Wktu SD.Menginjak SMP di pertengahan tahun 1980-an saat musik jenis fusion mulai membahana. Gw pun ikut mengoleksi album-album jazz, fusion dan sejenisnya.GW dapat kemampuan vokalnya sebagai bakat alamiah, dan gw ngga pernah mengikuti pendidikan olah vokal baik formal maupun informal.[sunting] KarirgW memulai karirnya Mulai dari finalis Cover Boy majalah Mode di tahun 1985, swaktu GW masih sekolah di kelas 2 SMP 13 Bandung.wktu gw duduk di bangku SMU, gw gabung dengan kelompok vokal di sekolah,dan senantiasa mendapat kepercayaan untuk menjadi vokal utama. Dari sinilah dri sini gw mulai menyadari kemampuan olah vokal yang lebih, yang akhirnya mendorong gw untuk membentuk satu band sekolah dengan anggotanya adalah para mantan personel band pengiring kelompok vokalnya itu.gw mulai menjalani karir profesional sebagai seorang vokalis mulai GW bergabung dengan Next Band pada tahun 1990, gw juga pernah bergabung dengan kelompok vokal yang cukup ternama Trio Libels pada tahun 1991.and GW juga pernah mengeluarkan album solon pada tahun 1992 dengan tajuk Kau Tetap Milikku, sebelum akhirnya bersama-sama dengan Aria Baron, Thomas Ramdhan, Ronald Fristianto, dan Dewa Budjana, pada tanggal 22 Maret 1994 Armand Maulana mendirikan sebuah kelompok band dengan nama GIGI yang masih bertahan sampai saat ini.

Wednesday, October 15, 2008

Iwan Hasan bersama DISCUSS

Horizon Online, Jakarta - Di tengah krisis yang berkepanjangan, musik Indonesia terus berkibar. Banyak bintang dan kelompok musik baru muncul dan mempertontonkan kebolehannya. Masing-masing hadir dengan warna dan karakter musikal yang berbeda. Salah satu di antaranya adalah "Discus", kelompok musik progresif cukup potensial, yang baru saja melahirkan album terbaru mereka: "Discus 1st"
Discus adalah sedikit di antara kelompok musik di Indonesia yang menjual sesuatu yang tak umum. Kalau saat ini banyak grup musik anyar yang hadir dengan warna alternatif yang kental, Discus justru sebaliknya. Yang ditawarkan kepada publik musik Indonesia adalah sesuatu yang progresif dan dinamis. Komposisi-komposisinya orisinil dengan idiom-idiom progresif.
"Penampilan Discus, yang dipimpin Iwan hasan, membawa angin segar yang cukup menarik," ujar Franki Raden, seperti dikutip dalam press release Discus, yang dikirimkan kepada Horizon Online. Menurut Franki, formasi instrumentasi yang dihadirkan oleh Discus, menarik dan harmonisasinya penuh disonan, struktur komposisinya kokoh, idiomnya progresif, dan kadang diselingi oleh keelokan lokal.
Yang menarik dari album ini adalah distribusinya. Album Discus 1st terlebih dahulu beredar di pasaran Eropa, melalui label Mellow Record, Italia. Agaknya kelompok Discus ingin menjangkau pasar yang lebih luas. Pasar Eropa adalah yang pertama diincarnya, kemudian menyusul Indonesia. Menurut Iwan Hasan, seperti dikutip Rakyat Merdeka, Discus melakukan strategi ini karena pihaknya sudah bergaul dengan kalangan musik internasional. Dan, Mellow Record pun menunjukan minat yang besar terhadap karya-karya mereka.
Discus didirikan pada 1996 lalu. Kelompok ini diperkuat oleh Iwan Hasan (gitar 21 strings Harpguitar), Anto Praboe (flute,sax), Eko Partitur (violin), Fadhil Indra (keyboard), Hayunaji (drum), Kiki Caloh (5 string fretless bas), Krisna Prameswara, dan Nonie (vokal). Masing-masing personil memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Kepiawaian mereka dalam memainkan instrumen musik dapat Anda simak pada album perdananya.
Iwan Hasan, sebagai motor kelompok ini, misalnya, bukanlah nama baru di blantika musik Indonesia. Pendidikan formalnya di bidang musik sangat mendukung kualitas permainan harpguitar-nya. Iwan mengenyam pendidikan musik di Willamete University, Salem, Oregon, Amerika Serikat, pada 1988 - 1991. Dia juga pernah mendapatkan penghargaan Outstanding Music Student Award, sebagai mahasiswa terbaik di angkatannya. Iwan tidak sendirian. Dia juga didukung oleh personil lainnya yang nota bene adalah musisi yang telah malang melintang di blantika musik Indonesia, maupun manca negara.
Ada sembilan komposisi yang ditawarkan di album Discus 1st . Di antaranya adalah Lamentation & Fantasia Gamelantronique, For This Love, Doc's Tune, Dua Cermin, Anugerah, dan Wujudkan!. Yang khusus dari komposisi-komposisi yang ditawarkan oleh Discus adalah resistensinya untuk sejauh mungkin menjaga intensitas infusi pola-pola komposisi yang unik dan inovatif. Hal ini dapat Anda temukan pada sembilan komposisi mereka.
Lalu, jenis musik apa yang coba diusung oleh Discus? "Wah, kami tak ingin terjebak dalam sebuah aliran musik. Anda sendirilah yang bisa memberikan penilaian atas musik kami," ujar Iwan Hasan kepada Horizon Online beberapa waktu lalu. Agaknya Iwan tak ingin terjebak dalam sebuah konsep musik yang ada. Tapi kalau mau dibilang, musik Discus adalah sebuah "pencampuran" dari berbagai elemen musik jazz, rock, klasik, pop, kontemporer, hingga tradisional. Sebaiknya Anda sendirilah yang langsung memberi penilaian. Nah, ingin bukti? (yollismn)


Blogspot Template by Isnaini Dot Com Powered by Blogger and Local Jobs